木曜日、2018年5月7日
Translation Contest (English - Indonesian)
Thursday, 7/5/2018
Source: Proz.com (only for member)
– People crave silence, yet are unnerved by it, The Economist
“The Sounds of Silence”
A theme of the age, at least in the developed world, is that people
crave silence and can find none. The roar of traffic, the ceaseless beep
of phones, digital announcements in buses and trains, TV sets blaring
even in empty offices, are an endless battery and distraction. The human
race is exhausting itself with noise and longs for its opposite—whether
in the wilds, on the wide ocean or in some retreat dedicated to
stillness and concentration. Alain Corbin, a history professor, writes
from his refuge in the Sorbonne, and Erling Kagge, a Norwegian explorer,
from his memories of the wastes of Antarctica, where both have tried to
escape.
And yet, as Mr Corbin points out in "A History of Silence", there is
probably no more noise than there used to be. Before pneumatic tyres,
city streets were full of the deafening clang of metal-rimmed wheels and
horseshoes on stone. Before voluntary isolation on mobile phones, buses
and trains rang with conversation. Newspaper-sellers did not leave
their wares in a mute pile, but advertised them at top volume, as did
vendors of cherries, violets and fresh mackerel. The theatre and the
opera were a chaos of huzzahs and barracking. Even in the countryside,
peasants sang as they drudged. They don’t sing now.
What has changed is not so much the level of noise, which previous
centuries also complained about, but the level of distraction, which
occupies the space that silence might invade. There looms another
paradox, because when it does invade—in the depths of a pine forest, in
the naked desert, in a suddenly vacated room—it often proves unnerving
rather than welcome. Dread creeps in; the ear instinctively fastens on
anything, whether fire-hiss or bird call or susurrus of leaves, that
will save it from this unknown emptiness. People want silence, but not
that much.
Indonesian translation:
Sebuah tema generasi, setidaknya
di negara maju, yang menunjukkan bahwa orang mendambakan keheningan dan tidak dapat
menemukannya. Suara bising lalu lintas, suara telepon yang tak henti-hentinya
berbunyi, suara pengumuman digital di bis dan kereta, suara perangkat televisi yang
dipasang hingga memekakkan telinga bahkan dalam keadaan kantor kosong, adalah serangan
mental tidak langsung dan gangguan psikologis tanpa henti. Manusia menghabiskan
hidupnya dalam suara bising dan mendambakan hal sebaliknya—apakah dalam hutan
rimba, samudera luas, atau di tempat retret yang dikhususkan untuk ketenangan
dan pemusatan konsentrasi. Alain Corbin, seorang profesor sejarah, menulis dari
tempat pengungsiannya di Sorbonne, dan Erling Kagge, seorang penjelajah
berkebangsaan Norwegia, dari ingatannya saat menjelajah dataran tandus
Antartika, tempat asal kedua orang ini telah mencoba melarikan diri.
Namun demikian, seperti Tuan Corbin
tunjukkan dalam karya berjudul “A History of Silence (Sejarah dari Keheningan)”,
saat ini mungkin tidak ada lagi suara bising seperti yang dahulu kala. Sebelum ditemukannya
ban angin (pneumatik), jalan-jalan di kota besar dahulu penuh dengan suara bising
yang memekakkan telinga berasal dari bunyi roda berlapiskan logam dan bunyi ketoplak
sepatu kuda yang bertubrukan dengan batu. Sebelum diberlakukan larangan
penggunaan telepon genggam secara sengaja, bis dan kereta penuh dengan suara percakapan
telepon. Para penjual koran tidak meninggalkan barang dagangan mereka dalam tumpukan
bisu, namun mengiklankannya dengan suara keras-keras, sebagaimana juga dilakukan
pedagang buah cheri, pedagang bunga violet dan pedagang ikan makarel segar.
Teater dan opera berada dalam kondisi kisruh penuh dengan suara gemuruh
sorak-sorai dan suara teriakan penonton. Bahkan di wilayah pedesaan, para petani
saat itu bernyanyi sambil bekerja membanting tulang. Mereka tidak bernyanyi
lagi sekarang.
Apa yang berubah bukanlah seberapa keras
tingkat suara bisingnya, ketika generasi seabad sebelumnya juga keluhkan, namun
tingkat gangguannya, tempat kebisingan memenuhi ruang tersebut dimana
keheningan mungkin menyerbu. Disitu terjadi suatu kondisi paradoks lainnya,
karena ketika suara bising ini benar-benar menyerbu— misalnya di kedalaman hutan pinus, di padang hamparan pasir, di sebuah
ruangan yang dikosongkan tiba-tiba — kondisi ini biasanya menimbulkan rasa
takut lebih dibandingkan dengan rasa hangat. Rasa ngeri mulai merasuk; syaraf
telinga secara naluri menegang bereaksi terhadap suara sekecil apapun, entah bunyi
desis-api atau suara cericip burung ataupun suara gemerisik dedaunan, yang akan
menghindarkan perasaan ngeri dari kehampaan suara yang sebelumnya tidak dikenali
ini. Orang menginginkan keheningan, namun tidak terlalu hening.
Comment:
It's a pity .. I don't have any ready cash to join the competition to qualify.... Well, since I don't have enough bucks to buy the subscription in Proz.com membership, I'll just post my translation result here. Feel free to comment/input/constructive criticism here.
Most probably I also didn't see any actual benefits (as stated) on the ads - and it's quite expensive here if you convert it to Rupiah (which is around Rp.1.724.520/Rp. 2.586.600) ($120/$180 per year)) - and it's not even the Pro version/Business version). I know probably you think I'm stingy but I have to be thrifty to count all the benefits of the membership compared to if I use the money for something else...
Source: https://www.proz.com/translation-contests/44#about_source_texts